Sejumlah pasangan perlu melakukan usaha lebih keras agar sang istri bisa hamil. Dari menjalani perawatan medis hingga cara tradisional yang ternyata masih menjadi alternatif cara untuk bisa cepat hamil.

Sebelum mencari cara agar cepat hamil, pastikan dahulu apakah Anda dan pasangan sudah menjalani cara alami berikut ini:

Periksa kesehatan fisik pasangan
Pasangan, baik suami atau istri, sebaiknya memeriksakan kesehatan fisik sebelum memutuskan untuk menjalani program kehamilan. Pastikan kedua belah pihak tidak memiliki penyakit menular seksual, infeksi pada daerah kelamin dan reproduksi, atau kondisi lain yang menghalangi kesempatan untuk hamil. Bila Anda telah menikah beberapa tahun dan tak kunjung hamil (atau mengalami keguguran berulang), minta dokter melakukan pemeriksaan lengkap mengenai penyebabnya.

Hidup sehat
Pasangan yang menjalani program kehamilan perlu menjaga kesehatannya dengan baik, demikian dikatakan Mayo Clinic. Tak hanya fisik, namun juga menghindari stres, kelebihan berat badan, memenuhi kebutuhan nutrisi, dan tidak mengkonsumsi alkohol, obat-obatan, dan rokok. Khusus bagi wanita, faktor seperti ini bisa mempengaruhi kemampuannya untuk hamil, maupun kondisi kesehatan janin (bila sudah hamil). Wanita juga perlu mengonsumsi vitamin untuk program hamil.

Kenali masa subur
Anda dan pasangan boleh saja sering berhubungan seks, namun jika tidak teliti, telur yang sudah matang dan siap dibuahi bisa terlewati. Inilah pentingnya mengetahui masa subur. Cara mengenalinya dengan mengukur temperatur tubuh wanita saat bangun tidur yang disebut basal body temperature atau BBT. BBT menjadi salah satu indikator ovulasi, yakni jika BBT wanita naik satu setengah derajat. Teknologi juga membantu cara pengukuran temperatur ini, melalui alat prediksi ovulasi atau OPK (ovulation predictor kit). Alat ini bisa mendeteksi perubahan hormon sehari atau dua hari sebelum ovulasi.

Hubungan seks sebelum ovulasi
Lakukan hubungan seks sebelum ovulasi. Sperma bisa berkembang di uterus dan di tuba falopi selama dua hingga tiga hari. Tetapi telur hanya bisa bertahan 12 jam hingga sehari setelah dilepaskan. Berhubungan seks sebelum ovulasi memperbesar kesempatan bertemunya sperma dengan ovulasi. Dengan alat bantuan seperti OPK (Anda bisa membelinya di apotek), Anda bisa mengetahui kapan ovulasi terjadi, dan segera berhubungan seks beberapa hari setelah alat tersebut menunjukkan tanda positif.

Posisi bercinta
Posisi misionaris memberikan kesempatan lebih tinggi kepada sperma untuk mendekati serviks. Bercinta menjelang waktu tidur juga bisa membantu, karena sperma punya waktu lebih lama dalam proses pembuahan telur.

Category: | 0 Comments


Para ibu rumah tangga seringkali kesulitan menghadapi anak yang merengek atau bertengkar dengan kakak-adiknya. Terutama jika jarak usia anak sangat dekat. Emosi bisa saja terpancing, namun membentak anak bukanlah cara yang baik untuk perkembangannya.

Ketua Komisi Perlindungan Anak Seto Mulyadi, atau akrab disapa Kak Seto, mengatakan bahwa seorang ibu harus belajar melatih diri mengontrol emosi. Caranya bisa beragam, kuncinya hadapi anak dengan tenang, sabar, dan kasih sayang.

"Musik paling indah adalah saat mendengar anak merengek. Melihat tangan anak kotor dengan makanan atau mainannya, adalah keindahan. Momen seperti ini tidak akan terulang saat anak dewasa, jadi nikmati dinamika dan romantikanya. Ibu bisa mengatasi anak dengan kesabaran, dan bukan bentakan atau kata kasar," jelas Kak Seto dalam acara Metro Pagi yang ditayangkan Metro TV, Sabtu (10/4/2010) pagi tadi.

Perlu dipahami bahwa perilaku anak muncul karena nalurinya sebagai anak-anak. Orang dewasa, dalam hal ini ibu, sebaiknya menanggapi perilaku anak dengan tepat, kata Kak Seto.

Emosi ibu yang biasanya terpancing perilaku anak bisa disalurkan dengan berbagai aktivitas yang positif, lanjutnya.

"Kalau jengkel, ibu bisa pergi ke dapur atau kamar mandi. Alihkan emosi dengan mengerjakan pekerjaan lain seperti mencuci perabotan, menyikat kamar mandi, atau apa pun yang mengalihkan emosi, daripada menumpahkan emosi kepada anak-anak," tukas Kak Seto.

Menyanyi lebih baik daripada berteriak, saat kesal dengan perilaku anak. Bagaimanapun anak menangkap apa yang dilakukan orang dewasa. Jika orangtua mengeluarkan kata kasar, anak belajar darinya. Jika emosi orangtua disalurkan dengan sesuatu yang positif, anak akan merekam hal positif pula.

"Dengan cara ini, rasa yang kemudian muncul adalah bersyukur. Ibu mensyukuri masih bisa menikmati tangisan anak, yang tidak akan ditemuinya lagi saat anak remaja. Anak juga merasa bersyukur karena orangtuanya bersikap baik meski perilaku mereka memancing emosi," tandasnya.