Author: Internet Tips on
Saturday, May 22, 2010
Majelis Permusyawaratan Rumah (MPR) menjadi wadah positif bagi tumbuh-kembang anak di rumah. MPR bisa menjadi ajang evaluasi ayah, ibu, dan anak-anaknya.
Seto Mulyadi, Ketua Komisi Nasional Perlindungan Anak, mengatakan anak belum banyak tahu dan sedang dalam proses belajar. Jika orangtua atau orang dewasa di sekelilingnya berkata kasar, anak akan belajar darinya.
Orangtua bisa saja keliru atau tak sengaja melontarkan kata kasar di depan anak. Jika sudah begini, orangtua harus legowo meminta maaf. Hadirkan juga kesempatan berbagi dengan melibatkan anak, tentang perilaku baik dan buruk yang terjadi selama seminggu.
"Mendidik anak dengan kata atau sikap kasar tidak akan memberikan keteladanan. Munculkan suasana kasih sayang dengan mengobrol, misalkan dalam bentuk sidang Majelis Permusyawaratan Rumah. Evaluasi bersama dengan meminta pendapat anak tentang perilaku baik buruk, yang disukai atau tidak oleh anak dari orangtuanya," papar Kak Seto dalam acara Metro Pagi yang ditayangkan Metro TV, Sabtu (10/4/2010) pagi tadi.
Orangtua perlu mencatat apa yang disukai anak dan tidak dari perilaku ibu dan ayahnya, demikian Kak Seto mencontohkan budaya terbuka dalam MPR ini. Tak perlu sungkan untuk meminta anak menegur orangtua, jika tak sadar bicara kasar.
Menurut Kak Seto, cara ini mengajarkan anak tentang budaya baik dan buruk yang boleh dan tidak boleh dilakukan di rumah. Anak akan belajar dari keteladanan dan keterlibatannya bersama orang dewasa.
"Anak harus diberdayakan dan terlibat dalam membentuk budaya keluarga. Orangtua juga harus mau dikritik. Misalkan janji ke mal tapi tak dipenuhi, lalu anak menagih janji. Ini baik dilakukan oleh anak. Berikan penjelasan kepada anak agar mereka memahami kondisinya," tukas Kak Seto.
Anak akan merasa satu tim dengan ayah-ibunya jika mereka diperlakukan sebagai subyek, lanjutnya. Hanya saja perlu juga diperhatikan, MPR akan efektif jika suasananya menyenangkan dan tidak kaku.
"Bebaskan anak mengeluarkan idenya, dan lakukan dengan suasana santai," tandas Kak Seto.
Author: Internet Tips on
Wednesday, May 12, 2010
Kasus anak dan balita yang merokok, seperti SW di Malang, mulai terungkap. Kebiasaan dan perilaku baik atau buruk pada anak tak terlepas dari pembelajarannya kepada lingkungan sekitar, yang dipenuhi orang dewasa, termasuk orangtua.
Ketua Komisi Nasional Perlindungan Anak, Seto Mulyadi, sempat menemui SW. Dari pertemuannya, pemerhati anak dan pendidikan yang akrab disapa Kak Seto mendapati, SW sama seperti karakter anak lainnya yakni meniru lingkungan.
"Saat diajak adu kekuatan, adu ponco, SW senang dan mengikuti dengan antusias. Dengan menciptakan lingkungan yang positif, anak akan mengembangkan dirinya. Anak meniru lingkungannya, termasuk ketika lingkungan di sekitarnya merokok atau berbicara kasar, dia akan mengikuti juga jika tidak didukung dengan komunikasi yang baik," papar Kak Seto dalam acara Metro Pagi yang ditayangkan Metro TV pada Sabtu (10/4/2010).
Ketika orang dewasa merokok atau bicara kasar di depan anak, telah terjadi kekerasan terhadap anak. Menurut Kak Seto, tindakan tersebut telah melanggar hak anak. Karena seharusnya anak mendapat lingkungan positif yang membantunya mengembangkan diri. Misalnya, dengan memberikan anak ruang untuk menggali kreativitasnya.
Perlu keterlibatan keluarga dan masyarakat dalam membangun lingkungan yang baik untuk anak. Perlu dibangun persepsi positif tentang anak. Setidaknya dengan tidak memberikan label anak nakal.
"Tidak ada anak nakal di dunia. Anak itu kreatif dan penuh rasa ingin tahu. Anak sedang dalam prosesnya belajar melalui lingkungan dan contoh. Apabila anak merokok, dan mendapat dukungan, misalkan dengan memujinya saat bisa mengeluarkan asap berbentuk cincin, maka perilakunya akan terus meningkat," tegas Kak Seto.
Padahal, anak berhak mendapat perlindungan, termasuk dari asap rokok. Sebaiknya orangtua atau orang dewasa tidak merokok di depan anak. Karena, bila anak masih dalam tahap belajar, ia belum bisa menilai apakah perilaku yang dilihatnya baik atau buruk. Ada perilaku yang sebenarnya boleh dipilih untuk dilakukan atau tidak. Namun dengan keterbatasan pengetahuannya, perilaku buruk tetap ditiru. Padahal, anak tak sepenuhnya menyadari dampak buruknya.
Author: Internet Tips on
Tuesday, May 11, 2010
Hari ketika saya sedang browsing internet, saya menemukan sesuatu yang sangat menarik perhatian saya. Ada baju gamis batik yang harganya murah banget. Entah bagaimana cara mereka memproduksi gamis tersebut sehingga harganya bisa 29.000. apakah tukang jahitnya di gaji sangat murah untuk sepotong baju? Kalau menurut saya harganya seharusnya diatas 50.000.
Gamis tersebut bermotifkan batik yang berwarna dasar coklat tua. Dengan panjang sampai di mata kaki. Di samping gambar gamis tersebut, terdapat juga gambar BAJU HAMIL yang harganya tidak kalah murah dengan gamis itu sendiri. Toko –toko online memang sekarang lagi banting harga alias GROSIR BUSANA MUSLIM. Hal ini dapat dipastikan mereka lagi kebanyakan stok atau bisa juga mereka lagi promosi besar-besaran untuk meraih konsumen baru.
Author: Internet Tips on
Friday, May 7, 2010
Dapatkan Tips dan triks Gratis untuk menghasilkan Uang Dari Blog. Di
www.uangdariblog.com anda akan menemukan banyak sekali tips yang akan
membatu anda mendapatkan penghasilan pertama dari blog. Semua tips dan
trik itu bisa anda dapatkan dengan gratis tanpa mengeluarkan uang
sepeserpun. Selain dari Di www.uangdariblog.com, anda juga bisa
mendapatkan berbagai trik di www.ayoberbagi.com.